Header

Lambin dan Jelatang Surga yang Tersembunyi

Banyak orang belum mengetahui bahwa di Hulu Sungai Selatan banyak terdapat lokasi tersembunyi yang dapat dijadikan tujuan wisata. Sebut saja lokasi tersebut adalah air terjun (Rampah) Lambin dan Jelatang.
Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 30 meter ini berada di deretan pegunungan Meratus. Tim Captain Banua Magazine beberapa waktu melakukan perjalanan menuju dua lokasi air terjun tersebut. Berikut adalah catatan perjalanannya. Dari desa loksado kami mencoba berjalan melewati desa Loklahung malaris. Perjalanan tampak mengasyikkan karena melewati rumah adat Malaris yang biasanya digunakan sebagai tempat upacara adat Dayak Malaris. 

Tracking


Dari desa Loklahung Malaris kami melanjutkan perjalanan ke desa selanjutnya yaitu desa Luapanggang. Desa ini berpenduduk + 10 kepala keluarga. Di sini alat penerangan menggunakan lampu teplok dan sebagian menggunakan energi cahaya matahari. Layaknya di Malaris, di Luapanggang pun juga terdapat balai adat Luapanggang. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan yang tentunya tak kalah seru dan penuh tantangan. Kami harus menerobos belukar hutan pegunungan Meratus! Jika musim hujan, untuk menempuh perjalanan ini sebaiknya mengenakan sepatu/sandal khusus yang umumnya digunakan untuk melintas di jalur licin. Jika tidak, kita bisa terpeleset dengan segala resiko yang tidak diduga-duga. Selain licin, beberapa tumbuhan di hutan pegunungan Meratus juga perlu diwaspadai. Banyak tumbuhan berduri dan mengakibatkan gatal. 


Rampah Lambin



Rampah Jelatang

Untuk sampai ke air terjun Lambin dan Jelatang kami hanya mengikuti jalur kecil (jalan setapak). Sekali dua jalur itu mempertemukan kami dengan areal perkebunan masyarakat Dayak seperti karet dan kayu manis. Selain perkebunan, kami juga harus melintasi aliran sungai yang mengalir deras. Untungnya kondisi air sedang dangkal, (setinggi lutut orang dewasa). Meski medan yang kami tempuh tidak mudah bahkan sekali waktu harus menyusuri tebing curam, hutan lebat nan alami mampu mengobati rasa lelah yang tak terkira. Setelah + 3 jam perjalanan, akhirnya suara gemuruh air itu terdengar juga. Rasa penasaran kami tentang air terjun Lambin dan Jelatang semakin tak terkira. Tak sabar rasanya ingin menjadi saksi betapa Tuhan telah menciptakan alam Kalimantan penuh dengan keindahan. Begitulah, akhirnya kami sudah berada di bawah air terjun oleh masyarakat sekitar disebut rampah lambin. Rampah dalam bahasa Indonesia berarti air terjun. Dari lokasi rampah lambin kami mencoba untuk mendaki tebing yang ternyata di atas sana terdapat aliran sungai. Kami tak berhenti sampai di sini, keputusan adalah menyusuri sungai itu dengan melawan arus. Berbeda dengan aliran sungai sebelumnya, di sungai ini penuh dengan bebatuan besar dan airnya tidak dalam. Di ujung penyusuran sungai ini, akhirnya kami bertemu langsung dengan air terjun yang oleh orang sekitar disebut dengan rampah jelatang. Karena badan sangat lelah, usai beristirahat akhirnya petualangan kami cukupkan sampai di sini dan segera kembali ke Loksado. Konon kabarnya, jika perjalanan kami terus dilanjutkan maka masih ada rampah menjangan dan rampah-rampah lainnya.[ ]

2 pesan anda:

Iqbal Al Ghifari said...

petualangan yang hebat dan menantang...
pengen kesana dan merasakannya...

Gaptek said...

Mantapppp eh,,,


Anak Mapala lo Punk neh jadi Hobby bertualang :)

Post a Comment

Salam sahabat BLOGGER

tanks atas komentarnya semoga bermanfaat...

Related Post